Twitter

Arsip Tulisan

Kategori Tulisan

RSS JPNN

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Makna Nuzulul Qur’an dan Laylatul Qadar

Diantara momentum yang berharga di bulan Ramadhan adalah malam nuzulul qur’an dan laylatul Qadar. Keduanya merupakan ruang bersejarah yang menentukan kehidupan dunia selanjutnya. Karena keduanya berhubungan langsung dengan proses turunnya al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat manusia.Akan tetapi seringkali disalah fahami keterangan antara nuzulul qur’an dan laylatul qadar, bahkan saling tumpang tindih antar keduanya, sehingga perlu diuraikan lebih jelas. Istilah nuzulul qur’an yang sering diperingati pada malam tanggal 17 Ramadhan merupakan malam di mana pertama kali al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw di Gua Hira melalui malaikat Jibril. Pada kesempatan pertama kali ini Malaikat Jibril membawa surat iqra’ wa rabbukal akram. Kemudian untuk selanjutnya al-Qur’an diturunkan secara berangsur.  (more…)

Mengapa Baca Salawat Di Sela-Sela Tarawih?

Alasannya karena Rasulullah Saw tidak menganjurkan salat disambung dengan salat berikutnya, kecuali kalau orang tersebut memisah antara keduanya dengan pembicaraan maupun dzikir. Berikut adalah kutipan riwayatnya secara lengkap:

أَنَّ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ أَرْسَلَهُ إِلَى السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ ابْنِ أُخْتِ نَمِرٍ يَسْأَلُهُ عَنْ شَىْءٍ رَأَى مِنْهُ مُعَاوِيَةُ فِى الصَّلاَةِ فَقَالَ صَلَّيْتُ مَعَهُ الْجُمُعَةَ فِى الْمَقْصُورَةِ فَلَمَّا سَلَّمْتُ قُمْتُ فِى مَقَامِى فَصَلَّيْتُ فَلَمَّا دَخَلَ أَرْسَلَ إِلَىَّ فَقَالَ لاَ تَعُدْ لِمَا صَنَعْتَ إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ فَلاَ تَصِلْهَا بِصَلاَةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ فَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِذَلِكَ أَنْ لاَ تُوصَلَ صَلاَةٌ بِصَلاَةٍ حَتَّى يَتَكَلَّمَ أَوْ يَخْرُجَ. (رواه مسلم رقم 73 وأبو داود رقم 1131)
(more…)

Fiqh Puasa : Onani ketika Berpuasa

Diantara hal-hal yang mebatalkan puasa adalah memasukkan sesuatu ke dalam lobang, melakukan hubungan badan dengan sengaja, muntah disengaja, pengobatan dengan memasukkan sesuatu ke kemaluan maupun dhubur,  keluar air mani sebab bersentuhan, haidh, nifas, gila, dan murtad. Memang keterangan ini teramat singkat, apalagi jika dibandingkan dengan referensi kitab-kitab fiqih yang sangat detail yang melengkapi setiap keterangan dengan beberapa kemungkinan dan pengandaian. Oleh karena itu wajar jika kemudian muncullah beberapa pertanyaan dari para pembaca. Diantara beberpa pertanyaan itu adalah mengenai bagaimana hukumnya onani (mengeluarkan air mani) di bulan Ramadhan, apakah membatalkan puasa?   (more…)

Tokoh-Tokoh Ahlussunnah Wal Jama’ah Dari Masa Ke Masa

Sesungguhnya keutamaan, kemuliaan dan keagungan para pengikut adalah menunjukan keagungan orang yang diikutinya. Seluruh ulama terkemuka di kalangan Ahlussunnah adalah pengikut al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, atau pengikut al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi. Dengan demikian tidak disangsikan lagi bahwa kedua Imam ini adalah sebagai penegak tonggak dasar dari berkibarnya bendera Ahlssunnah, yang oleh karenanya kedua Imam ini memiliki keutamaan dan kemuliaan yang sangat agung. (more…)

Keutamaan Shadaqah di Bulan Ramadhan

Diantara amal ibadah yang sangat dianjurkan dalam bulan Ramadhan adalah memperbanyak shadaqah. Karena sesungguhnya shadaqah yang paling utama adalah shadaqah di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Rasulullah saw.
(more…)

I’tikaf Salah satu Ibadah yang Dianjurkan di Bulan Ramadhan

I’tikaf adalah salah satu ibadah yang dianjurkan selama Ramadhan. Sebagaimana yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw.

Hadits Aisyah ra. menerangkan:

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 

Dari Aisyah r.a, isteri Nabi s.a.w, meneuturkan: “sesungguhnya Nabi s.a.w, melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bukan Ramadhan hingga Beliau wafat, kemudian isteri-isterinya mengerjakan I’tikaf sepeniggal Beliau”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006 (more…)

Bagaimana Jika Meninggal, Namun Masih Hutang Puasa?

Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki tanggungan kewajiban membayar puasa (qadla) karena adanya udzur syar’i (misalnya sakit), maka baginya tidak berdosa. Dan bagi ahli waris yang ditinggalkan tidak wajib membayar fidyah.Sedangkan bilamana penangguhan kewajiban membayar puasa (qadha) itu disengaja atau tanpa ada unsur udzur syar’i, maka kerabat yang ditinggalkannya berkewajiban untuk membayar fidyah bagi si mayit dengan ketentuan satu hari satu mud. (more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.